Selasa, 07 Februari 2012

Keluar dari ketakutan

إِ
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.  Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”
(QS al-Ma’ârij [70]: 19-21)


Pernahkah anda merasa takut? Rasa takut yang terkadang datang secara tiba-tiba dan tidak beralasan. Misalnya takut gagal, takut kecewa, takut malu, takut mati, takut tidak percaya diri dan ketakutan yang lainnya. Biasanya persoalan ini akan muncul tanpa adanya undangan dan permintaan untuk hadir, ada juga ketakutan yang memang bawaan dari lahir.

Beberapa ahli psikologi menyebutkan bahwa rasa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan. Ketakutan selalu terkait dengan peristiwa yang akan datang, seperti keadaan  yang tidak dapat diterima, tetapi ketakutan itu muncul dan akan terus berkembang jika kita memeliharanya dan menyediakan ruang pada ketakutan tersebut sehingga memberikan pengaruh yang negatif terhadap diri kita dan ketakutan itu akan terus menghantui dan mengikuti kemanapun kita melangkah.

Misalnya, seorang siswa yang akan menghadapi ujian nasional (UN) mereka takut gagal dan tidak lulus. dengan adanya rasa takut yang selalu menghantui fikirannya, malahan meraka tidak menggunakan energi terbaiknya untuk mempelajari kisi-kisi ujian nasional yang telah ada. Bahkan banyak di antara mereka yang hanya menghabiskan energi terbaiknya untuk memikirkan ketakutan tersebut dan mencari cara bagaimana mendapatkan banyak contekan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Apabila manusia merasakan ketakutan dan kegelisahan, memang suatu hal yang wajar, karena memang telah tergambar dalam Al-Qur’an, surat Al-Ma’ârij:19 “sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah”. Dan pada ayat selanjutnya “apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah”. Memang sudah menjadi kodratnya, manusia mempunyai sifat keluh kesah, gelisah dan takut. Tetapi, jangan jadikan ketakutan itu sebagai jembatan untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai apapun yang diinginkan.

Perlu diketahui, sebuah penelitian modern telah membuktikan bahwa 80% dari ketakutan itu hanya ada pada pikiran (mindset) kita dan itu tidak pernah terjadi. Mengapa ketakutan itu bisa terjadi? Karena secara sadar atau tidak sadar sering kali manusia melakukan sesuatu atas dasar ketakutanya, akan tetapi sadarkah kita ketika kita melakukan sesuatu atas dasar rasa takut yang kita miliki, pilihan kita akan terbatas pada dua jenis respon yang keduanya bersumber pada keinginan untuk menyelamatkan diri.

Kalau sedikit mengulas tentang bagian-bagian otak, ternyata memang ada bagian otak kata yang berfungsi untuk mempertahankan diri, otak ini disebut otak reptil. Menurut Dr. Paul Maclean, otak terdiri dari 3 lapisan, yang salah satunya adalah otak reptil yaitu fungsi motor sensorik, yang berasal dari panca indra dan kelangsungan hidup, “hadapi atau lari”. Mungkin inilah yang mendasari jika orang kalut, maka apapun bisa ia lakukan. Bisa jadi tanpa sadar, karena saat itu di pikirannya   hanya satu yaitu “menyelamatkan diri”.

Banyak sekali orang yang membatasi diri dalam berkreatifitas, sehingga setiap tantangan datang ia takut dan mengatakan mana mungkin? Padahal  dengan hanya mengubah pola pikir (mindset) kita saja, kita dapat berkata mungkin “Pasti bisa dan harus  dicoba!”

Untuk mengatasi rasa takut yang terus membelenggu di dalam  hati   dan pikiran kita, ada beberapa langkah yang harus kita lakukan,

Pertama, Tanyakan pada diri kita. Apa yang membuat kita merasa ketakutan? Mengapa ketakutan itu terjadi pada diri kita? Setelah pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan mendapat jawaban, tugas kita selanjutnya yaitu memutuskan apakah kita akan membiarkan diri kita terbelenggu dalam ketakutan tersebut atau melawan ketakutan itu sebagai seorang pemberani atau hanya keinginan lari untuk menyelamatkan diri dari rasa ketakutan tersebut, tentunya kita harus memutuskan yang terbaik untuk diri kita bukan dengan berusaha keluar dari rasa ketakutan. Karena di dunia ini, dalam keadaan apapun dan dimanapun tidak ada yang perlu kita takutkan. Kecuali Allah SWT. “Ittaqillâha haitsu ma kunta, takutlah kepada Allah dimanapun kamu berada”.

Kedua, Kenali  ketakutan yang ada pada diri kita. sebuah pepatah mengatakan  “tak kenal maka tak sayang” jadi, kenali ketakutan pada diri kita agar ketakutan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Untuk dapat mengerti apa sebenarnya yang kita takutkan, kita harus merubah cara berfikir dari perasaan pertama menuju perasaan kedua. Menurut W. Timothy Gallwey dan Robert Kriegle, dalam bukunya Inner Skiing, bahwa ada dua perasaan takut yaitu perasaan pertama dan perasaan kedua. Perasaan pertama membuat diri kita selalu protektif dan semakin terbelenggu dalam ketakutan,sedangkan perasaan kedua mendorong kita untuk keluar dari rasa takut secara efektif dan membuat adrenalin kita selalu berusaha semaksimal mungkin memiliki persepsi yang tajam dan bijaksana. Dari uraian diatas anda dapat menentukan termasuk dalam point keberapakah dalam perasaan yang pertama rasa takut yang  anda rasakan dan mulai rubahlah point-point itu ke dalam point-point perasaan kedua.

Ketiga, yakinkan diri untuk merubah ketakutan tersebut. “Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah sendiri keadaan yang ada pada diri mereka” (al-Rad [13]:11). Siapa lagi yang dapat merubah ketakutan kita menjadi sebuah keyakinan jika bukan diri kita sendiri, karena Allah pun takkan sudi merubah keadaan kita jika kita tidak berusaha merubahnya. Jadi, jangan membelenggu diri kita dalam ketakutan, mulai rubahlah paradigma berfikir kita tentang ketakutan, karena hanya keyakinan untuk berubah yang justru menghantarkan diri keluar dari ketakutan tersebut. Keyakinan akan memiliki kekuatan yang dahsyat dalam kehidupan kita, jika kita terus mengelolanya dengan baik. Benjamin Burt, Silversmith mengatakan “kemakmuran sejati adalah hasil yang pasit dari penempatan keyakinan yang benar pada diri sendiri dan sesama kita. Keyakinanlah yang mampu mengalahkan ketakutan dalam diri kita dan keyakinan yang dapat menuntun kita pada kekuatan yang luar biasa yang menghadirkan peranan Allah  Yang Maha Esa dalam setiap langkah yang kita ambil dan jika keyakinan semakin kuat maka akan menghantarkan menuju kearah yang diinginkan. “Anda adalah pemilik dari segala pikiran, perasaan akan ketakutan atau keberanian bergantung dari bagaimana cara anda mengaturnya, semakin anda dapat menyeimbangkan perasaan dan pikiran semakin dekat anda menjadi self mastery”(Aini Fauziyah)

Keempat, Do it now. Saatnya mempraktikkan, jangan menunda-nunda lakukan sekarang atau anda akan menghabiskan waktu anda tenggelam dalam ketakutan dan lakukan dengan baik agar kita mampu menemukan sisi positif dari ketakutan dan menjadikan ketakutan itu sebagai sahabat kita yang mampu mengkolaborasikan adrenalin dan otak kita secara maksimal untuk melakukan manuver-manuver canggih yang membawa kita menuju keindahan hidup yang sesungguhnya.

Ketakutan tidak akan pernah berubah menjadi keyakinan jika kita tidak pernah berusaha merubahnya. Yakinlah segala sesuatu yang ada di dalam hidup ini dapat berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar